Oleh: ptw2007 | Agustus 12, 2007

Islamisasi Pengetahuan

Pada era modern saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan sudah sangat pesat. Namun diakui bahwa itu semua dikembangkan sangat banyak oleh orang Barat, bukan kaum muslimin. Ilmu pengetahuan seolah menjadi senjata yang sangat ampuh untuk menaklukkan alam semesta. Begitu strategis peran ilmu pengetahuan ini. Para intelektual muslim mulai menyadari hal tersebut dan muncullah kemudian upaya islamisasi pengetahuan. “karena pilar peradaban modern adalah ilmu pengetahuan maka sejumlah pemikir merasa sangat berkepentingan untuk menelaah kembali ilmu pegetahuansecara kritis. Para pemikir memandang strategis untuk memberi prioritas yang besar dan utama terhadap pengembangan ilmu demi memcahkan problem diatas. Kalangan ilmuan Muslim mersaperlu melakukan revitalisasi peradaban (c.q. ilmu pengetahuan) dengancara langkah: Islamisasi ilmu”[29]. Gagasan Islamisasi ini dipelopri oleh Islamil Raji al Faruqi dengan lontaran gagasannya melalui Islamization of Knowledge dalam The First International conference of Islamic Thought dan Islmization of Knoledge (Islamabad, 1982). Ia juga mendirikan The International Institute of Islamic Thought (1981) di Washington.

Mengenai pemaknaan Islamisasi pengetahuan sampai sekarang masih dalam perdebatan, tokoh-tokoh yang memiliki pandangan yang berbeda tentang Islamisasi pengetahuan ini dapat diwakili oleh Islamil Raji al Faruqi, Ziauddin sardar, Pervez Hoodbhoy, Fazlur Rahman.

Al Faruqi menyatakan bahwa pengetahuan modern menyebabkan adanya pertentangan wahyu dan akan dlam diri umat Islam, memisahkan pemikiran dari aksi, serta adanya dualisme kultural dan religius. Karena itu diperlukan Islamisasi ilmu dan upaya itu haurs beranjak dari tahudi. Ilm pengetahuan Islami selalu menekankan adanay kesatuan alam semesta, kesatuan kebenaran dan pengetahuan serta kesatuan hidup[30]

Fazlur Rahman penanggapi ide ini dengan pendapat yang berbeda. Rahman berpendapat bahwa kita tidak perlu melakukan Islamisasi ilmu. Yang perlu kita lakukan adlah menciptakan atau menghasilkan para pemikir yang memiliki kapasitas berpikir konstruktif dan positif. Tampaknya Rahman sangat mementingkan untuk menghasilkna manusia manusia-manusia yang mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup baik dan dengan begitu sacarakotamatis akan dihasilkan manusia yang mampu menghasilkan karya secara nyata. Ziauddin Sardar juga sepakan dengan usualan Al Faruqi meski berbeda mengenai langkah-langkahnya. Menurut sardar langkah yang harus dilakukan adlah dengan membangun pandangan dunia (world view) Islam dengan titik pijak utama membangaun epistemologi Islam. Sardar justru menghawatirkan dengan langkah Al Faruqi malah adalah westernisasi Islam, bukan Islamisasi pengetahuan.

Al Faruqi sendiri mengusulkan 12 langkah utnuk Islamisasi ilmu yakni (1) penguasaan disiplin ilmu pengetahuan modern, (2). survei disiplin ilmu, (3). penguasaan khazanah Islam: sebauah Ontologi, (4). penguasaan khazanah ilmiah Islam: sebuah sintesa, (5) penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu, (6). penilaian kritis terhadapilmu maodern, 7 penilaiak kritis terhadap khazanah Islam, (8). survei permasalahanyang diahadapai umat Islam, (9) survei permasalahan yang dihadapi umat manusia, (10) analisis kreatif dan sintesis, (11) penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan (12) penyebarluasan ilmu yang telah diIslamisasikan itu.

Pandangan berbeda dikemukakan oleh Dr. Thaha Jabir al alwani, beliau menganggap yang diperlukan pada ilmu pengetahuan saat ini adalah taujih (pengarahan) sehingga sasaran dan tujutan ilmu-ilmu itu diarahkan dengan arahan yang Islami.

Misalnya semua ilmu pengetahaun dan persoalan pemikiran yang berkaitan dengan objek-objek ilmu alam fenomena, sifat materi, karakteristik dsb. adalah temasuk masalah bersama antara kita dan sekluruh umat manusia. Metodenya terlihat jelas dnegan sifat kenetralan yang bersifata ilmiha; karena masalah ilmu alam didasarkan atas eksperimen yang dapat dilihat dan dirasakan denga kehidupan materi.”[31]

Apapun cara dan langkah serta pemahaman tentang Islamisasi ilmu pengetahuan, yang jelas yang diinginkan bersama adalah bahwa umat Islam dapat menguasai ilmu pengetahuan sehingga dengan itu dapat lebih mensejahterakan umat dan menggukan ilmu pengetahuan untuk kepenitngan kebaikan dan kebahagian umat manusia. Dan dengan ilmu pengetahuan dapat lebih mendekatkan manusia kepada penciptanya dan lebih mengetahui tentang hakikat alam semesta, termasuk dirinya. “Ilmu pengetahuan adalah hikmah yang hilang dari umat Islam, oleh karena itu umat Islam harus mengambilnya dimanapun ditemukan”.

Konsekuensi dari penguasaan ilmu pengetahuan adalah penguasaan teknologi. Hal ini sangat membantu umat Islam dalam upaya mensejahterkan umat Islam. Tanpa struktur pengetahuan yang baik, teknologi tidak bisa dikuasai secara penuh, pengalaman dibeberapa negara yang hanya mengcopy teknology bangsa lain hanyalah menghasilkan teknologi yang senantiasa bergantung pada orang lain. Sendang pengembangan teknologi sendiri berhenti karena tidak punya landasan keilmuan. Sehingga senantiasa menjadi mengguna teknologi, bukan pengembang dan senantiasa tertinggal dari negara lain. Kondisi Negara Muslim saat ini masih sangat rendah penguasaan teknologinya. Hal ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi hal ini menjadi landasan bagi kemandirian negara Muslim.

Intelektualitas muslim tidak cuma diartikan dengan munculnya muslim berkualitas tinggi. Tapi juga membutuhkan kuantitas yang tidak sedikit. Kuantitas intelektual ini terkait pada lapangan kerja dan tenaga ahli. Kurangnya tenaga ahli muslim terkadang memaksa untuk tetap saja mengimpor sumber daya dari luar sedangkan orang pribumi hanyalah buruh kelas rendah dengan gaji yang rendah pula.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori